Tahun 2010 adalah pertama kalinya aku terjun ke dunia pendidikan. Yang mana, sepertinya ini pengalaman yang cukup langka (Khususnya pada saat itu). Lulusan Keperawatan jadi guru SMK?
Setiap ditanya orang - orang.
"Kerja dimana?"
"di SMK"
"oh guru ya? guru apa?"
"guru keperawatan"
Setelah itu lanjutannya bisa panjang sekali, dengan kondisi orang yang bertanya kebingungan dan aku harus menjelaskan dengan sedetail-detailnya. 😅
Singkat cerita, pertengahan tahun pelajaran 2014/2015 aku dipercaya untuk lebih mendalami mengenai Kurikulum Sekolah. Hal yang sangat baru untukku dan tentu saja asing dan tak terpikirkan aku akan mendapatkan kesempatan itu seumur hidupku. 😩
Selama aku mempelajari mengenai Kurikulum, saat itu baru saja diterapkan Kurikulum 2013, yang sebelumnya yaitu Kurikulum KTSP 2006.
Sejauh yang aku tahu, berganti Kurikulum merupakan suatu hal yang tantangannya sangat besar. Aku, yang sama sekali tidak mempunyai background pendidikan tentu saja selalu kewalahan jika menyangkut pergantian Kurikulum. Kurikulum 2013 yang kami jalani dengan berbagai revisi dan perbaharuan setiap tahunnya.
Sejak pandemi Covid 2019, Kurikulum 2013 seketika perlu dikaji ulang dan dibahas lebih lanjut menyesuaikan kondisi saat itu yang mana pembelajarannya dilaksanakan secara online.
Dengan segala keterbatasan untuk mencapai Kompetensi Dasar dan hal - hal lainnya dalam pembelajaran, dibuatlah Kurikulum Darurat yang mana ini menjadi dasar dan salah satu yang melatarbelakangi munculnya Kurikulum Merdeka yang WAJIB diberlakukan di Tahun Pelajaran 2022/2023.
Awalnya... aku cukup ovethinking dengan adanya Kurikulum Baru/Kurikulum Merdeka ini. 😫😫
Lagi dan lagi untuk kesekian kalinya aku harus belajar lagi, aku harus menjadi yang lebih paham lebih dulu di lingkungan Sekolahku dibanding yang lainnya. Aku merasa bebanku bertambah lagi, disaat baru saja enjoy menerapkan Kurikulum 2013 dan pembiasaan - pembiasaannya.
Sampai pada akhirnya, aku mengikuti Pelatihan Kurikulum Merdeka di SMKN 63 yang dilaksanakan saat bulan Ramadhan. Pada saat itu, aku uring-uringan... karena kenapa sih harus saat puasa? Haha...
Hari terakhir penutupan dengan narasumber terakhir yang memberikan materi, mataku tidak bisa mengantuk seperti hari sebelumnya, mulutku tak henti-henti tersenyum dan tertawa serta sesekali nyeletuk ucapan dari Pembicaranya. Waw, ini adalah penutup yang sangat berkesan dari rangkaian Pelatihan selama 3 hari tersebut. Akhirnya Pengawas Sekolah menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka Wajib dilaksanakan untuk tahun ajaran baru besok.
Hari demi hari dilalui, penerapan Kurikulum Merdeka juga semakin dekat. Rapat Kerja yang dilaksanakan di Sekolah kembali mengundang Pembicara yang sebelumnya menjadi Pembicara di Pelatihanku di SMKN 63.
Aku yang sebelumnya selalu skeptis dan sinis dengan perubahan Kurikulum, namun tidak saat ini. Menurutku Kurikulum Merdeka dibuat memang untuk memperbaiki Kurikulum sebelumnya. Tentu saja pasti ada tantangan - tantangan yang akan dihadapi pada guru mulai dari belajar lagi dari awal, memahami yang pasti membutuhkan waktu bertahun-tahun dan kemungkinan terakhir adalah Kurikulum Merdeka nantinya juga akan dikembangkan lagi dengan Kurikulum yang lebih baik.
Prinsip Kurikulum Merdeka ini salah satunya adalah menerapkan pembelajaran yang menyenangkan. Aku rasa ini sangat cocok dengan apa yang aku pahami mengenai Pendidikan sejauh ini. Belajar memang lebih asik, seru dan menyenangkan jika dijalani dengan perasaan senang, bukan ketegangan dan ketakutan.
Bukan berarti selama ini aku sempurna menerapkan itu, tentu saja sesekali aku masih belum bisa mengendalikan emosi dan mengendalikan suasana kelas jika tidak seperti yang direncanakan. Namun, sejauh yang aku sadari, dengan Kurikulum Merdeka ini semakin memotivasi aku untuk menjadi guru yang lebih Praktis, Kreatif dan juga Inovatif dengan menebarkan perasaan senang, bahagia dan aman kepada Peserta Didik. Itu semua sekaligus, menjadi salah satu harapanku mulai tahun ini.
So, Rapat kerja 2002, ganti Kurikulum lagi? Gasss lahhhh....Gak Masalah!😁😁😁😆😆😆

Komentar
Posting Komentar